Aku Suka Motret Tapi Nggak Punya Kamera

Nulis sih nulis aja kali

Solo Bagiku

with one comment

kotasolo
SOLO – Kota Solo bagiku adalah kota kelahiran, yang mewarnai masa kecil hingga remajaku. Sempat selama beberapa tahun aku tinggalkan kota ini menuju ibukota (sebenarnya tinggal di Bekasi sih) untuk mencari “makan”, kemudian aku balik lagi di kota yang mulai banyak dibangun Mall ini :(.

Sebelum tinggal di Bekasi mulai awal tahun 2010, seingatku Walikota Solo terakhir adalah Bapak Slamet Suryanto, dan dari cerita yang kudengar banyak “negatifnya”, ah sudahlah.

WNA Ikut Karnaval

WNA Ikut Karnaval

Justru ketika tinggal di Bekasi itulah aku banyak mendengar dan membaca informasi perkembangan kota kelahiranku. Aku baru tahu saat itu bahwa Walikota Solo adalah Jokowi (sebelumnya aku tidak begitu peduli). Aku juga baru sadar ternyata tiap hari Minggu ada gelaran Car Free Day, aku juga baru tahu Taman Balekambang sudah direnovasi sedemikian rupa. Padahal kalau di Solo, aku tinggal tepat di tengah-tengah kota, yakni di sebelah Hotel Novotel, dan aku melewatkan begitu saja semua hal tadi.

Ping Pong di CFD

Ping Pong di CFD

Ketika ada kesempatan mudik, aku yang penasaran dengan semua informasi perkembangan Kota Solo, mulai mencari tahu satu demi satu.

Tapi yang paling aku kangeni dari Kota ini adalah Wedangan atau Angkringannya dan Nasi Liwet. Di ibukota aku sering membanggakan tempat nongkrong nomor satu ini. Ketika teman-temanku dari Jakarta main ke Solo, pasti aku ajak nongkrong semalaman di Wedangan menikmati hidangan istimewa kampung tersebut.

Wedangan alias HIK

Wedangan alias HIK

Nasi Liwet

Nasi Liwet

Ketika dibangun City Walk di sebelah selatan Jalan Slamet Riyadi, aku tidak menganggap itu sebagai hal istimewa. Tapi setelah aku menyusuri jalanan itu, dalam hati aku berkata “hei ini tidaklah buruk, bagus sekali malah”, bisa jalan kaki di bawah rindangnya pepohonan dan sepanjang jalan terdapat fasilitas Wifi gratis untuk internet. Tapi Wifi itu sekarang sudah nggak ada lagi, ini mengecewakan.

Aku berjalan kaki dari Sami Luwes terus ke barat hingga menjelang Purwosari. Lain waktu pada hari Minggu aku coba bangun pagi dan ikut jalan-jalan di gelaran Car Free Day.

Car Free Day menurutku juga lumayan, aku bisa bertegur sapa dengan kawan-kawan lama melalui pertemuan yang tidak direncanakan, ini semacam pertemuan kejutan.

Partinah BOSCH di Balekambang

Partinah BOSCH di Balekambang

Lalu aku coba main ke Taman Balekambang, yang kini suasananya tidak “seseram” dahulu waktu aku masih SMP ketika main di taman ini.

Sementara Pasar Malam di Ngarsopuro juga asik untuk jalan-jalan, meskipun aku jarang sekali belanja, kecuali beli bakso bakar dan es teh.

Pasar Malam Ngarsopuro

Pasar Malam Ngarsopuro

Intinya, aku merasakan sendiri Kota Solo sudah lebih nyaman, tapi sekarang juga lebih macet 😛 .

Kesanku, selama beberapa tahun terakhir, banyak pembangunan yang dilakukan. Ada banyak hal yang aku suka, tapi ada beberapa yang aku kurang suka. Aku suka banyak taman kota atau acara-acara untuk masyarakat, yang menurut analisaku ini dilakukan Pemkot untuk “meredam” gejolak masyarakat Solo yang dikenal mudah disulut. Makanya diberi hiburan-hiburan rakyat. Sejumlah perubahan di birokrasi juga cukup baik menurutku, contohnya ketika mengurus surat-surat di Kelurahan, Kecamatan atau di Balaikota jadi agak lebih mudah.

Yang tidak aku suka adalah banyaknya Mall yang kini berdiri di Solo. Sewaktu aku tinggal di Bekasi dan sering main ke Jakarta, aku tidak pernah mau diajak masuk Mall, kecuali sekali, sewaktu buka puasa Ramadhan disana tahun 2010.

Aku merasakan dampak Mall di Kota Solo. Anak-anak muda jadi suka nongkrong sambil menghabiskan waktu nggak jelas. Budaya belanja dan gaya berpakaian yang makin berani juga mulai menjangkiti remaja di Kota yang kini dipimpin Bapak FX Rudy ini. Sekarang ini makin sering aku lihat anak-anak gadis memakai celana-celana super pendek (Komedian Kang Soleh Solihun menyebutnya sebagai “celana gemes”). Aku merasa tidak nyaman saja dengan gaya anak-anak jaman sekarang yang tidak bisa dibantah, mereka pasti meniru budaya entah darimana. Sedangkan Pemkot sedang gencar-gencarnya berkampanye “Lestarikan Budaya”. Itu hanya pandangan dariku, sedangkan untuk orang lain terserah pandangan mereka.

Belakangan ini aku sempatkan jalan-jalan lagi di beberapa tempat di Kota Solo. Aku ajak istri dan anak kecilku. Aku potret dan rekam video sudut-sudut Kota Solo, yang menurutku belum begitu mempunyai “karakter ke-Soloannya”. Tapi aku juga kurang tahu, bagaimana cara kotaku tercinta ini jadi berkarakter SOLO, yang adem, iyup, tentrem, nggak macet, transportasi umum banyak dan murah. Terus apalagi ya? hehehe

Ah, pokoknya aku berharap kota ini makin baik, tentram dan ngangeni.

Aku dan Anakku

Aku dan Anakku

Iklan

Written by zakiniku

November 7, 2013 pada 6:36 pm

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Setelah setahun aku menaiki kapal fikiranku dan kulayari di laut untuk kedua kalinya.Aku berlayar menuju pulau-pulau timur, dan mengisi kapalku dengan dupa dan kemenyan, pohon gaharu dan kayu cendana.Aku berlayar menuju pulau-pulau barat, dan membawa bijih emas dan gading, batu merah delima dan zamrud, dan sulaman serta pakaian warna merah lembayung.Dari pulau-pulau selatan aku kembali dengan rantai dan pedang tajam, tombak-tombak panjang, serta beraneka jenis senjata.Aku mengisi kapal fikiranku dengan harta benda dan barang-barang lhasil bumi dan kembali ke pelabuhan kotaku, sambil berkata, “Orang-orangku pasti akan memujiku, memang sudah pastinya. Mereka akan menggendongku ke dalam kota sambil menyanyi dan meniup trompet”Tapi ketika aku tiba di pelabuhan, tak seorangpun keluar menemuiku. Ketika kumasuki jalan-jalan kota, tak seorang pun memerhatikan diriku.Aku berdiri di alun-alun sambil mengutuk pada orang-orang bahawa aku membawa buah dan kekayaan bumi. Mereka memandangku, mulutnya penuh tawa, cemuhan pada wajah mereka. Lalu mereka berpaling dariku.Aku kembali ke pelabuhan, kesal dan bingung. Tak lama kemudian aku melihat kapalku. Maka aku melihat perjuangan dan harapan dari perjalananku yang menghalangi perhatianku. Aku menjerit.Gelombang laut telah mencuri cat dari sisi-sisi kapalku, tak meninggalkan apa pun kecuali tulang belulang yang bertaburan.Angin, badai dan terik matahari telah menghapus lukisan-lukisan dari layar, memudarkan ia seperti pakaian berwarna kelabu dan usang.Kukumpulkan barang-barang hasil dan kekayaan bumi ke dalam sebuah perahu yang terapung di atas permukaan air. Aku kembali ke orang-orangku, tapi mereka menolak diriku kerana mata mereka hanya melihat bahagian luar.Pada saat itu kutinggalkan kapal fikiranku dan pergi ke kota kematian. Aku duduk di antara kuburan-kuburan yang bercat kapur, merenungkan rahsia-rahsianya.

    Silver Price

    November 8, 2013 at 2:30 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: